Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2018

,
Filemon 1:8-22

Pemulihan hubungan hanya bisa dikerjakan oleh kasih. Hubungan serusak apa pun, bisa diperbaiki oleh kasih. Mengampuni adalah salah satu bentuk nyata tindakannya. Saat menjadi tawanan di Roma, Paulus bertemu dengan Onesimus. Ia adalah budak yang melarikan diri dari tuannya, Filemon, sahabat yang dipimpin Paulus kepada Kristus (ay. 9). Paulus memenangkan Onesimus kepada Kristus dan menyuruhnya untuk kembali kepada Filemon di Kolose (Kol. 4:9). Menurut hukum Romawi, Onesimus bisa dihukum mati karena kejahatannya. Namun, Onesimus telah menjadi saudara seiman dalam Kristus. Paulus ingin Filemon dan Onesimus mengalami pemulihan hubungan. Hubungan mereka di dalam Kristus bukan lagi antara seorang majikan dan hambanya, melainkan sebagai saudara yang kekasih (ay. 16).

Kalau saat ini hubungan kita rusak dengan seseorang, sesakit dan sejahat apa pun orang itu pernah melukai, hubungan itu tetap bisa dipulihkan saat kita mau mengasihi dan mengampuni. Jangan menunggu besok atau orang itu datang menghampiri, tetapi lakukan pemulihan sesegera mungkin. Kalau perlu sekarang. Ketika kita mau taat kepada kehendak Tuhan, kita pasti bisa dan bertindak.

Senin, 23 April 2018

,
2 Samuel 17:1-4

Tuba adalah tumbuhan rambat yang digunakan untuk meracun ikan atau serangga. Jika akarnya ditumbuk lalu dicampur dengan air, hasilnya adalah cairan berwarna mirip susu. Itu sebabnya ada peribahasa berbunyi "Air susu dibalas dengan air tuba" (kebaikan dibalas dengan kejahatan).

Daud tidak bersedia membunuh Saul sekalipun ia memperoleh kesempatan emas untuk melakukannya. Dua kali malah. Ia tidak mau menjamah orang yang diurapi oleh Allah. Sikap yang luar biasa! Kita mengira kebaikannya ini membuahkan balasan yang setimpal.

Bertahun-tahun kemudian putra kandungnya sendiri ingin menggulingkan takhtanya. Absalom setuju saat Ahitofel, sahabat baik ayahnya, hendak memburu dan menghabisi nyawa Daud walaupun mereka tahu bahwa Daud adalah raja yang diurapi oleh Allah sendiri. Kita bisa membayangkan betapa sesaknya perasaan Daud saat itu, terutama karena yang ingin menewaskannya adalah orang-orang yang dekat dengannya. Ia menangis, menyelubungi kepalanya, dan berjalan tanpa kasut (2Sam. 15:30).

Kita mungkin pernah mengalami apa yang terjadi pada Daud: melakukan kebaikan dan mendapatkan balasan yang buruk. Di manakah keadilan? Akankah Allah berdiam diri melihatnya? Tidak. "TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku" (2Sam. 22:21). Sebagaimana Allah memulihkan takhta Daud, Dia juga akan memulihkan kita. Kita patut terus berbuat baik; bukan karena mengharapkan balasan setimpal, melainkan karena hal itu menyenangkan Allah.

Perbuatan baik tidak dapat melindungi kita, Allah itulah perisai dan perlindungan kita.

Jumat, 20 April 2018

,
Nehemia 2:1-10

Betapa mudah mengagumi hal yang baru. Berkunjung ke gereja lain, misalnya. Bisa jadi kita kagum akan gedungnya yang megah, sambutan jemaat yang ramah, atau paduan suara yang indah. Sebaliknya, tanpa sadar begitu mudah kita mencela gereja sendiri. Sebagai warga, mestinya kita ikut membenahi dan melayani.

Menanggapi kabar tentang runtuhnya tembok Yerusalem, Nehemia merasa sangat terbeban. Sekalipun tinggal dan bekerja di tempat yang jauh sebagai juru minuman raja, ia tetap peduli akan nasib kotanya. Ia mempergumulkan masalah itu dalam doa. Setelah memohon petunjuk Tuhan dan memiliki rancangan yang matang, Nehemia memberanikan diri berbicara kepada raja dengan risiko dihukum mati. Ia berhasil karena mengandalkan kedaulatan dan kekuasaan Tuhan, serta menggunakan akal, pikiran, dan kesediaannya untuk memberi diri terlibat secara aktif.

Daripada hanya memuji-muji gereja tetangga dan mengabaikan gereja sendiri, kita dapat belajar dari mereka. Bukan untuk bersaing, melainkan supaya gereja kita bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu! Gereja tidak membutuhkan orang yang suka mengkritik, tetapi mereka yang mau mendukung dalam berbagai bentuk (doa, waktu, tenaga, dan dana).

Dukungan ini dapat kita lakukan jika kita memiliki modal dasar utama, yakni spiritualitas yang baik. Spiritualitas yang baik menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sehingga kita merasa terbeban, sepenanggungan, dan mau melibatkan diri secara aktif dalam membangun gereja melalui doa dan kerja nyata.

Mengandalkan kedaulatan dan kekuasaan Allah bukan berarti hanya menanti, melainkan juga memberdayakan akal dan pikiran.

Postingan Terkait

Kamis, 19 April 2018

,
Matius 12:1-8

Murid-murid Yesus sangat kelaparan! Yesus pun mengizinkan waktu para murid memetik bulir gandum kemudian memakannya untuk mengatasi rasa lapar. Masalahnya, itu hari Sabat, yang membuat orang-orang Farisi begitu marah. Para murid dianggap melanggar hukum Taurat! Tampaknya, orang-orang Farisi itu merasa menjadi kelompok yang paling baik menjalankan hidup keagamaan.

Namun Yesus memberi mereka sebuah pelajaran berharga: kadang ada orang berpikir bahwa hidup beragama itu baik kalau sudah menaati peraturan dan perintah-perintah secara harfiah. Hidup keagamaan menjadi begitu kaku dan bisa menjadi kurang manusiawi. Ada orang justru menderita dan terancam kematian karena menjalankan peraturan agama yang tidak tepat. Sedangkan, Tuhan menghendaki belas kasihan, pengampunan dan keselamatan manusia dengan menjalankan dan menghayati perintah-Nya.

Dari kebenaran itu, kita memahami bahwa hubungan kita dengan Tuhan tak bisa dilepaskan dari hubungan kita dengan sesama. Sebagai orang beriman, tentu kita "menerima aturan atau perintah" untuk membawa persembahan kepada Tuhan berupa harta atau barang-barang berharga, namun akan lebih penting ketika "persembahan" itu dalam situasi tertentu digunakan untuk menolong sesama dari bahaya kematian, kemiskinan, atau kelaparannya. Ya, sebagai orang beriman, kita tidak boleh menutup mata terhadap keprihatinan yang menyelimuti sesama. Karena Yesus sendiri memberi teladan: Ia berbelas kasihan kepada kemalangan kita hingga rela memberikan nyawa-Nya di kayu salib.

Postingan Terkait

Rabu, 18 April 2018

,
1 Korintus 6:12-20

Saat kita membeli sebuah barang atau jasa, kita punya hak penuh atas barang atau jasa itu. Contohnya, saya membeli laptop. Laptop itu saya pakai menulis, menjalankan game, atau didiamkan-itu hak saya. Bahkan, jika saya memberikan laptop itu kepada orang lain, itu juga hak saya.

Siapakah pemilik bumi serta segala isinya, dan dunia serta segala yang ada di dalamnya? Tuhan (Mzm. 24:1). Kita memang memiliki harta, tetapi sebetulnya harta itu milik Tuhan. Kita dipercaya untuk memakai dan mengelolanya. Siapakah pemilik tubuh kita? Saat kita percaya pada Kristus dan mengikuti Dia, kita adalah milik Tuhan. Tubuh kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh darah Kristus sehingga tubuh kita adalah milik Kristus. Apakah kehendak Kristus bagi tubuh kita? Memuliakan Allah. Hidup kudus dengan menjauhi percabulan yang mencemarkan tubuh (ay. 18). Menjaga pikiran, tindakan, dan perasaan agar selaras dengan firman-Nya. Jangan mendukakan Roh Kudus yang diam dalam diri kita.

Tubuh kita milik Tuhan, muliakanlah Tuhan dengan tubuh kita. Segala sesuatu yang kita miliki dan kita pakai saat ini berasal dari Tuhan. Jadilah pengelola yang benar. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita gunakan saat ini, termasuk tubuh kita, memuliakan Tuhan dan mendatangkan sukacita bagi orang-orang yang merasakan dampak pikiran, perbuatan, dan ucapan kita.

Pengelola yang benar mengelola dengan bijak segala sesuatu milik tuannya.

Postingan Terkait

Senin, 16 April 2018

,
Lukas 24:36-49

Penampakan Yesus pasca-kebangkitan, tampaknya tidak membuat para murid langsung percaya. Mereka terkejut, takut, dan malah menyangka melihat hantu (ay. 37). Sampai Yesus sendiri menegaskan kehadiran-Nya dengan menunjukkan tangan dan kaki yang berlubang paku (ay. 38-40). Sekejap Yesus pun mengalihkan momen kebingungan itu dengan menanyakan kepada mereka, apakah ada makanan atau tidak (ay. 41-43). Sambil makan, Yesus menjelaskan pada mereka tentang kebenaran Kitab Suci (ay. 44) dan, agar mereka paham, Dia membukakan pikiran mereka (ay. 45), memampukan mereka memahami berita pertobatan dan pengampunan dosa (ay. 47). Tanpa pencerahan tersebut, Kitab Suci pastilah akan menjadi aksara biasa belaka bagi mereka.

Kitab Suci banyak berisi maksud Allah yang sulit dicerna oleh logika kita. Saat merenungkan firman-Nya, kita dapat berdoa memohon Tuhan memberikan pengertian. Kiranya firman yang kita renungkan mengarahkan kita kepada maksud Tuhan yang sebenarnya sehingga kita tidak salah langkah.

Mintalah pertolonganNya untuk membuka pikiran kita yang terbatas.

Postingan Terkait

Jumat, 13 April 2018

,
NUH belum tahu Banjir akan datang ketika ia membuat Kapal dan ditertawakan kaumnya.

ABRAHAM belum tahu akan tersedia Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah hatinya.

MUSA belum tahu Laut terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

Yang Mereka Tahu adalah mereka harus Patuh pada Perintah TUHAN dan tanpa berhenti Berharap yang Terbaik.

Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, TUHAN telah menyiapkan Kejutan.

TUHAN memberikan apa yang kita Butuhkan, bukan apa yg kita Inginkan!
Lakukan bagianmu saja, dan TUHAN akan mengerjakan bagianNya.

Postingan Terkait

Selasa, 10 April 2018

,
1 Korintus 15:1-11

Kalau diminta menyampaikan satu hal terpenting tentang Yesus, apa yang akan kita sampaikan? MujizatNya? KelahiranNya yang ajaib? Itu tadi memanglah merupakan penggalan kisah hidup Yesus di bumi ini. Tapi, dari semua itu, mana yang paling penting?

Injil Markus dan Yohanes tidak memuat catatan kelahiran Yesus. Injil Matius dan Lukas hanya mencatat sedikit tentang kelahiran-Nya. Kisah mukjizat yang sama pun tidak dapat kita temukan dalam keempat Injil. Namun keempatnya merekam dengan detail peristiwa di sekitar kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam surat-surat di PB, hal yang terus-menerus ditekankan ialah tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Ini menunjukkan bahwa poin inilah yang terpenting dari apa yang Kristus kerjakan bagi kita.

Firman Tuhan diilhamkan kepada Paulus tentang kebenaran ini kepada jemaat di Korintus bahwa yang sangat penting ialah Kristus mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (ay. 3-4). Inilah Injil, kabar baik yang menyelamatkan orang percaya. Berita inilah yang selalu ia bagikan kemanapun ia pergi. Bahkan ketika Paulus pertama kali datang ke Korintus, ia "telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan" (1Kor. 2:2). Kiranya kita juga memahami pentingnya kebenaran ini, agar dapat membagikannya kepada orang lain.

Tanpa kematian dan kebangkitan Kristus, segala hal yang dilakukanNya selama di dunia sama sekali tidak berarti bagi kita.

Postingan Terkait

Jumat, 06 April 2018

,
Markus 6:31-5

"Orang banyak" dalam catatan keempat Injil, selalu digambarkan sebagai kerumunan rakyat jelata yang tak berdaya, sakit, lapar dan dahaga akan kebenaran (Yoh. 6:2; Mat. 8:1, 19:2, 20:29; Mar. 5:21-24; Luk. 5:15, 7:11). Mereka ini selalu mengikut ke mana pun Yesus pergi. Hati Yesus yang penuh belas kasihan selalu tergerak oleh mereka- yang disebut-Nya "kumpulan domba yang tak bergembala". Tentu Yesus dan para murid sudah sangat letih setelah seharian mengajar dan menolong orang banyak. Namun Dia selalu punya hati bagi mereka.

Orang banyak itu berencana mengadakan revolusi untuk memaksa Yesus menjadi raja mereka (Yoh. 6:15). Tak terkecuali para murid pun memimpikan pulihnya kejayaan kerajaan Israel (Kis. 1:6). Sehari sebelum Yesus ditangkap dan disesah, orang banyak ini membentangkan jubah, melambaikan daun palem, dan berteriak, "Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yoh. 12:13). Namun sejenak kemudian orang banyak ini telah terprovokasi oleh berita yang dipelintir-bahwa Yesus adalah penyesat dan penghujat Allah, yang layak disalibkan. Bahkan mereka berkeras akan menanggung darah-Nya yang tak bersalah, sampai ke anak cucu mereka (Mat. 27:25). Mengerikan!

Kita jangan mudah terpesona pada kerumunan orang banyak yang memujamu, atau pada keahlian pengerah massa yang bisa mengumpulkan dan mempengaruhi massa. Sebab, Anda akan terperanjat bila mereka membalikkan punggung dan berteriak, "Salibkan dia". Belajarlah setia mengiring Yesus, walau hanya sendiri.

Tetap ku ikut walau sendiri, tetap ku ikut walau sendiri, ku tak ingkar, ku tak ingkar.

Postingan Terkait

Kamis, 05 April 2018

,
Markus 14:16-25

Pada malam sebelum Yesus disalibkan, Dia diperhadapkan pada enam pengadilan. Tidak ada satu pun yang menyatakan Dia bersalah. Bahkan, tuduhan menghujat nama Allah yang dijatuhkan kepada-Nya oleh para ahli Taurat, orang Farisi, dan orang Saduki, sama sekali tidak terbukti. Yesus naik ke atas kayu salib tanpa sedikit pun noda dan kesalahan. Itulah sebabnya darah Yesus adalah darah yang sangat mahal dan berharga. Firman Tuhan menyatakan bahwa Dia adalah Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela dan tidak bernoda.

Sepatutnya kita mengenal darah Yesus secara lebih mendalam. Kata "ditumpahkan" dalam nas hari ini adalah terjemahan kata bahasa Yunani ekcheo, yang artinya dicurahkan. Bukan hanya sebagian, melainkan seluruhnya, sampai habis.

Setetes darah Yesus sudah cukup untuk menebus seluruh dosa manusia, tetapi Yesus memilih menumpahkan seluruh darah-Nya untuk Anda dan saya. Setiap kali kita melakukan perjamuan kudus dan mengingat pengorbanan-Nya, kita dapat dengan yakin mengatakan, "Oleh bilur-bilur darah-Nya saya telah disembuhkan, " dan kita dapat dengan penuh keberanian mengatakan, "Saya senantiasa dikuduskan, disucikan, dan dilayakkan oleh darah Yesus."

Darah Yesus telah mengubah segalanya. Kita yang seharusnya menjadi orang-orang terhukum, kini merdeka dan dilayakkan untuk menerima segala berkat yang Tuhan sediakan. Kita yang seharusnya menanggung kutuk, kini dikejar oleh kebaikan dan kemurahan Tuhan!

Pengorbanan Yesus menjadikan kehidupan kita indah dan masa depan kita penuh pengharapan.

Postingan Terkait

Rabu, 04 April 2018

,
Matius 16:21-28

Difitnah, dibenci, dihina, dijadikan objek caci-maki, dianiaya, bahkan diancam untuk dibunuh. Itulah risiko yang harus dihadapi orang-orang yang hidup dalam kebenaran. Tidak tahan dengan berbagai serangan seperti ini, kita mungkin berharap agar Tuhan dengan segera menegakkan keadilan dan membela kita. Kalau boleh, ada mujizat yang Tuhan lakukan sehingga kita terhindar dari segala ancaman itu secara ajaib. Salahkah harapan demikian?

Sebetulnya, menghindar dari tekanan dan penderitaan adalah usaha yang manusiawi. Namun upaya kita mungkin saja tidak berkenan di hadapan-Nya. Apalagi bila kita memaksakan keinginan untuk membalas perlakuan buruk mereka dengan mendoakan agar mereka ditimpa bencana. Petrus juga tidak rela ketika mendengar Yesus akan mengalami penderitaan dan kematian, sebelum akhirnya bangkit. Secara spontan Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya (ay. 22). Yesus bukan saja tidak menanggapi harapan Petrus itu dengan ramah, Dia bahkan justru memarahi Petrus. Bagi Yesus, Petrus bermaksud menghalangi Yesus menapaki jalan penderitaan yang Allah kehendaki.

Pada malam menjelang kesengsaraan-Nya, Yesus memanggul beban mental dan emosi yang amat dahsyat di taman Getsemani. Namun Dia justru memohon agar kehendak Bapa-Nyalah yang terjadi (Mat. 26:42). Yesus meninggalkan teladan agar kita mengikuti jejak-Nya. Dia pun memberi perintah agar kita taat dalam penderitaan sembari tetap setia mengikut Dia (ay. 24).

Yang Tuhan mau dari kita ketika menderita adalah agar kita taat dan tetap setia kepadaNya.

Postingan Terkait

Selasa, 03 April 2018

,
Matius 27:45-56

Saat kematian Yesus, gempa bumi terjadi dan tabir Bait Allah terbelah menjadi dua dari atas sampai bawah (ay. 51). Sebelumnya tabir itu memisahkan ruangan di Bait Suci (Kel. 26:33). Ada tempat kudus dan tempat maha kudus, dan hanya orang-orang yang dikhususkan Allah yang diperkenankan masuk ke sana. Kepala pasukan dan prajurit yang menjaga Yesus menjadi takut melihat peristiwa ini, lalu tertegun dan tersadar bahwa sesungguhnya Dialah Anak Allah (ay. 54). Peristiwa ini merupakan anugerah yang besar bagi setiap orang percaya, memungkinkan kita untuk bertemu dengan Allah tanpa ada pemisah. Penebusan-Nya di kayu salib membuat kita bisa berjumpa dengan Dia setiap waktu melalui doa dan penyembahan. Allah sudah berkurban untuk menyediakan pintu agar kita bisa datang khusus kepada-Nya.

Sudahkah kita bersyukur akan anugerah Allah yang begitu besar tersebut? Anugerah untuk berjumpa dengan Dia setiap waktu tanpa ada lagi pemisah sudah disediakan bagi kita yang percaya pada-Nya. Datanglah kepada-Nya.

Bersama Tuhan itu indah!

Postingan Terkait

Kamis, 29 Maret 2018

,
Lukas 10:25-37

Bapak B.S., mantan kapten pilot maskapai penerbangan asing ternama, mengalami pembaruan tujuan hidup setelah menonton sebuah tayangan di televisi. Ia tertegun melihat adegan menyedihkan dari para pengungsi Timor Leste di provinsi NTT. Tak lama kemudian, atas kesepakatan dengan istrinya, keluarganya membatalkan rencana berlibur, lalu memakai uangnya untuk membeli keperluan yang dibutuhkan oleh para pengungsi tersebut. Sebuah langkah awal, yang lahir dari belas kasihan ilahi, berkembang menjadi panti asuhan Roslin.

Ketika Allah hendak menaruh belas kasihan-Nya, Ia dapat menggunakan sarana apa pun. Ada banyak pemirsa yang menonton tayangan seperti yang Bapak B.S. saksikan, tetapi mengapa hanya ia yang tergerak hatinya? Jawabannya: karena Allah menaruh belas kasihan dalam dirinya! Seperti orang Samaria yang tergerak untuk menolong korban perampokan yang ditemuinya di jalan, belas kasihan ilahi menggerakkannya untuk menolong sesamanya. Ia pun tak segan untuk mengeluarkan kocek pribadinya sebagai bukti kesungguhannya.

Ketika datang ke bumi untuk berkorban di kayu salib, Yesus sedang digerakkan oleh belas kasihan untuk menyelamatkan manusia. Belas kasihan-Nya masih terus dibagikan sampai hari ini, sambil berharap ada orang yang memberi respons balik. Setiap hari, Allah juga memberi kesempatan saat melihat sesama kita memerlukan pertolongan. Maukah kita dipakai Allah menjadi sarana untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada sesama kita?

Ketika belas kasihan Illahi mengalir, tidak seorang pun dapat berpangku tangan.

Postingan Terkait

Rabu, 28 Maret 2018

,
Markus 14:3-9

Bagi Maria (Yoh. 12:3), Yesus bukan hanya guru atau sahabat, melainkan Anak Allah yang sangat spesial. Karena itulah saat Yesus datang ke Betania, ia memberikan sebuah persembahan istimewa, yaitu mencurahkan minyak narwastu murni yang mahal harganya ke atas kepala Yesus. Bukan hanya itu, Maria pun meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Bagi Yudas Iskariot, tindakan Maria ini berlebihan atau menurut istilah zaman sekarang lebay. Namun, bagi Yesus, Maria sudah melakukan sesuatu yang baik. Yesus menganggap pengurapan dengan minyak itu sebagai persiapan untuk penguburan-Nya. Perbuatan itu membuat nama Maria tercatat dalam kitab Injil.

Kalau kita berusaha menjadi yang pertama atau berusaha memberikan yang spesial bagi orang yang kita kasihi, usaha spesial apa yang kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan? Tuhan selalu mengasihi kita. Kita punya Bapa yang sangat baik dan setia mengasihi kita sepanjang masa. Tidak ada istilah mahal atau berlebihan saat kita mau tulus mengasihi Tuhan dan sesama.

Kita mengungkapkan kasih kepada Tuhan dengan memberikan persembahan yang terbaik bagiNya.

Postingan Terkait

Selasa, 27 Maret 2018

,
Yesaya 61:1-3

Nabi Yesaya diutus Allah untuk menjadi seorang "perawat"! Hal ini nampak jelas dari pengakuannya bahwa Allah telah mengutusnya untuk menyampaikan kabar baik bagi orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, memberitakan pembebasan kepada yang tertawan, melepaskan mereka yang terkurung oleh penjara, memberitakan datangnya tahun rahmat Tuhan dan menghibur mereka yang berkabung (ay. 1-2). Kehadiran Yesaya tentu membawa harapan baru di hati orang-orang Israel yang bertahun-tahun mengalami getirnya hidup di negeri pembuangan.

Pada dasarnya Allah memakai hidup kita sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk "merawat" jiwa-jiwa yang terluka dan terpenjara oleh berbagai persoalan hidup. Melalui perhatian, belas kasihan, dan kemurahan hati yang kita lakukan tanpa pamrih untuk "merawat" mereka yang terluka, kita pun melihat bagaimana tangan Allah telah mengangkat dan menyembuhkan mereka. Lewat tangan-tangan kita, mereka melihat pertolongan Allah!

Merawat adalah ekspresi cinta kasih Allah kepada umatNya.

Postingan Terkait

Senin, 26 Maret 2018

,
Mazmur 1:1-6

Roma 4:6 bahwa orang yang bahagia adalah orang yang dibenarkan oleh Allah. Catatan sejarah dari orang-orang percaya mengungkap bahwa bahagia adalah ciri utama mereka, yang diekspresikan melalui sukacita. Termasuk ketika menghadapi penganiayaan, mereka menderita tetapi bahagia dan bersukacita. Perkataan Kristus yang mengatakan, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah." (Yoh. 10:10b), menjadi nyata dalam hidup mereka. Tapi banyak dari kita tidak mengalami hal serupa, kadang-kadang kesedihan dan sungut-sungutlah yang mewarnai hidup kita.

Pemazmur mengungkap rahasia di balik itu adalah hidup orang benar. Orang benar akan selalu bahagia di setiap "musim" kehidupan. Orang benar akan tetap bersukacita walaupun keadaan tidak berpihak kepada mereka. Pemazmur mengumpamakannya seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang tidak layu daunnya. Tak hanya itu, ada jaminan bahwa apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Lalu bagaimanakah menjadi orang yang dibenarkan? Firman Tuhan menyatakan bahwa seseorang dibenarkan itu bukan karena perbuatan baiknya tetapi karena iman. Iman kepada Yesus Kristus. Beriman kepada Kristus artinya menerima Dia sebagai Juru Selamat dan memercayakan hidup kepada-Nya. Salah satunya dengan merenungkan Firman-Nya siang dan malam. Merenungkan Firman-Nya berarti menjadikannya standar hidup. Dengan demikian kita akan disebut orang berbahagia karena hidup dalam kehendak-Nya.

Berbahagia pada situasi apapun adalah ciri orang beriman pada Allah.

Postingan Terkait

Jumat, 23 Maret 2018

,
Kolose 3:1-4

Rasul Paulus melalui ilham dari Allah menasihati agar kita memperbaharui cara berpikir kita (Ef. 4:23), meninggalkan cara berpikir yang kanak-kanak (1Kor. 13:11), berubah memiliki cara berpikir seperti Allah (Rom. 12:2). Hendaklah kita menaruh pikiran yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp. 2:5), memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi (ay. 2), yaitu perkara yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, disebut kebajikan, dan patut dipuji (Flp. 4:8). Sebaliknya, kita membuang perkara yang keliru, najis, curang, pahit, jahat, dan tidak terpuji.

Mungkin saat ini kita sedang menghadapi persoalan. Bila kita memiliki cara berpikir Tuhan, kita bisa melihat persoalan dari sudut pandang Tuhan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, dalam sudut pandang Tuhan, firman Tuhan membantu kita melihat persoalan dan sekaligus jalan keluarnya. Dalam menghadapi persoalan, tetap ada damai sejahtera Tuhan, yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (Flp. 4:7).

Jangan fokus pada besarnya masalah, fokuslah kepada Tuhan yang lebih besar dari masalah.

Postingan Terkait

Kamis, 22 Maret 2018

,
1 Samuel 17:40-50

Di mata manusia, pertarungan Daud versus Goliat sungguh tak seimbang. Dalam segala hal jagoan Filistin itu unggul (ay. 4-7). Maka, sejak semula Daud amat diragukan kesanggupannya (ay. 33). Demikianlah menurut cara pandang manusia. Namun kisah ini justru hendak mengajak kita menelisik dari sudut pandang Allah. Bahwa-sebagaimana pengakuan Daud-itu adalah pertempuran Tuhan (ay. 47). Apabila Tuhan yang bertempur, tak heran Goliat seorang pecundang belaka. Sedangkan Daud? O, dia hanya alat untuk mewujudkan kemenangan-Nya.

Hidup ini bak sebuah pertempuran. Tak jarang lawan tak seimbang menghadang. Raksasa masalah. Ingat, doa adalah senjatamu. Bukan uang, harta, kecakapan, dan teman-relasi Anda. Bawalah setiap beban ke hadirat-Nya. Angkatlah hatimu. Tekuklah lututmu. Mintalah Tuhan memimpin dan mengendalikan hidupmu, maka Dia akan bertempur bagimu.

Tiada masalah yang terlalu besar dihadapan Allah yang Mahabesar.

Postingan Terkait

Rabu, 21 Maret 2018

,
Amsal 4:23-27

Ornitolog, peneliti unggas, meyakini bahwa: tidak ada burung yang memiliki mata setajam rajawali. Mata rajawali bisa melihat puluhan kilometer saat terbang tinggi di angkasa. Rajawali bisa melihat unggas di semak sabana, reptil yang melata di rawa, kawanan kumbang di pepohonan, dan ikan-ikan yang berenang di perairan sungai atau lautan lepas.

Jika memiliki mata setajam rajawali, kita mungkin bisa melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang lain; bisa melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain; dan lebih awal melihat sebelum orang lain melihatnya. Namun ternyata tidak selalu demikian. Mata kita memiliki keterbatasan. Hidup yang sarat perubahan membuat kita sering terlambat atau tidak melihat realitas di sekitar kita. Tentu saja kita bisa melatih mata yang setajam rajawali, mata visioner yang mampu memandang jauh ke depan. Seperti kata penulis Amsal, "Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka" (ay. 25). Tidaklah mustahil memiliki mata setajam rajawali, tetapi kita harus bijak. Setiap saat kita harus bersedia merawat hati dan pikiran kita agar tetap bersih.

Saudaraku, memiliki mata yang bisa memandang jauh ke depan itu penting, dan yang lebih penting adalah kita tetap melangkah searah dan sejalan dengan firman Tuhan. "Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan" (ay. 27).

Mata yang baik menggerakkan hidup kita semakin benar di mata Tuhan.

Postingan Terkait