Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2018

,
Filemon 1:8-22

Pemulihan hubungan hanya bisa dikerjakan oleh kasih. Hubungan serusak apa pun, bisa diperbaiki oleh kasih. Mengampuni adalah salah satu bentuk nyata tindakannya. Saat menjadi tawanan di Roma, Paulus bertemu dengan Onesimus. Ia adalah budak yang melarikan diri dari tuannya, Filemon, sahabat yang dipimpin Paulus kepada Kristus (ay. 9). Paulus memenangkan Onesimus kepada Kristus dan menyuruhnya untuk kembali kepada Filemon di Kolose (Kol. 4:9). Menurut hukum Romawi, Onesimus bisa dihukum mati karena kejahatannya. Namun, Onesimus telah menjadi saudara seiman dalam Kristus. Paulus ingin Filemon dan Onesimus mengalami pemulihan hubungan. Hubungan mereka di dalam Kristus bukan lagi antara seorang majikan dan hambanya, melainkan sebagai saudara yang kekasih (ay. 16).

Kalau saat ini hubungan kita rusak dengan seseorang, sesakit dan sejahat apa pun orang itu pernah melukai, hubungan itu tetap bisa dipulihkan saat kita mau mengasihi dan mengampuni. Jangan menunggu besok atau orang itu datang menghampiri, tetapi lakukan pemulihan sesegera mungkin. Kalau perlu sekarang. Ketika kita mau taat kepada kehendak Tuhan, kita pasti bisa dan bertindak.

Senin, 23 April 2018

,
2 Samuel 17:1-4

Tuba adalah tumbuhan rambat yang digunakan untuk meracun ikan atau serangga. Jika akarnya ditumbuk lalu dicampur dengan air, hasilnya adalah cairan berwarna mirip susu. Itu sebabnya ada peribahasa berbunyi "Air susu dibalas dengan air tuba" (kebaikan dibalas dengan kejahatan).

Daud tidak bersedia membunuh Saul sekalipun ia memperoleh kesempatan emas untuk melakukannya. Dua kali malah. Ia tidak mau menjamah orang yang diurapi oleh Allah. Sikap yang luar biasa! Kita mengira kebaikannya ini membuahkan balasan yang setimpal.

Bertahun-tahun kemudian putra kandungnya sendiri ingin menggulingkan takhtanya. Absalom setuju saat Ahitofel, sahabat baik ayahnya, hendak memburu dan menghabisi nyawa Daud walaupun mereka tahu bahwa Daud adalah raja yang diurapi oleh Allah sendiri. Kita bisa membayangkan betapa sesaknya perasaan Daud saat itu, terutama karena yang ingin menewaskannya adalah orang-orang yang dekat dengannya. Ia menangis, menyelubungi kepalanya, dan berjalan tanpa kasut (2Sam. 15:30).

Kita mungkin pernah mengalami apa yang terjadi pada Daud: melakukan kebaikan dan mendapatkan balasan yang buruk. Di manakah keadilan? Akankah Allah berdiam diri melihatnya? Tidak. "TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku" (2Sam. 22:21). Sebagaimana Allah memulihkan takhta Daud, Dia juga akan memulihkan kita. Kita patut terus berbuat baik; bukan karena mengharapkan balasan setimpal, melainkan karena hal itu menyenangkan Allah.

Perbuatan baik tidak dapat melindungi kita, Allah itulah perisai dan perlindungan kita.

Jumat, 20 April 2018

,
Nehemia 2:1-10

Betapa mudah mengagumi hal yang baru. Berkunjung ke gereja lain, misalnya. Bisa jadi kita kagum akan gedungnya yang megah, sambutan jemaat yang ramah, atau paduan suara yang indah. Sebaliknya, tanpa sadar begitu mudah kita mencela gereja sendiri. Sebagai warga, mestinya kita ikut membenahi dan melayani.

Menanggapi kabar tentang runtuhnya tembok Yerusalem, Nehemia merasa sangat terbeban. Sekalipun tinggal dan bekerja di tempat yang jauh sebagai juru minuman raja, ia tetap peduli akan nasib kotanya. Ia mempergumulkan masalah itu dalam doa. Setelah memohon petunjuk Tuhan dan memiliki rancangan yang matang, Nehemia memberanikan diri berbicara kepada raja dengan risiko dihukum mati. Ia berhasil karena mengandalkan kedaulatan dan kekuasaan Tuhan, serta menggunakan akal, pikiran, dan kesediaannya untuk memberi diri terlibat secara aktif.

Daripada hanya memuji-muji gereja tetangga dan mengabaikan gereja sendiri, kita dapat belajar dari mereka. Bukan untuk bersaing, melainkan supaya gereja kita bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu! Gereja tidak membutuhkan orang yang suka mengkritik, tetapi mereka yang mau mendukung dalam berbagai bentuk (doa, waktu, tenaga, dan dana).

Dukungan ini dapat kita lakukan jika kita memiliki modal dasar utama, yakni spiritualitas yang baik. Spiritualitas yang baik menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sehingga kita merasa terbeban, sepenanggungan, dan mau melibatkan diri secara aktif dalam membangun gereja melalui doa dan kerja nyata.

Mengandalkan kedaulatan dan kekuasaan Allah bukan berarti hanya menanti, melainkan juga memberdayakan akal dan pikiran.

Postingan Terkait

Kamis, 19 April 2018

,
Matius 12:1-8

Murid-murid Yesus sangat kelaparan! Yesus pun mengizinkan waktu para murid memetik bulir gandum kemudian memakannya untuk mengatasi rasa lapar. Masalahnya, itu hari Sabat, yang membuat orang-orang Farisi begitu marah. Para murid dianggap melanggar hukum Taurat! Tampaknya, orang-orang Farisi itu merasa menjadi kelompok yang paling baik menjalankan hidup keagamaan.

Namun Yesus memberi mereka sebuah pelajaran berharga: kadang ada orang berpikir bahwa hidup beragama itu baik kalau sudah menaati peraturan dan perintah-perintah secara harfiah. Hidup keagamaan menjadi begitu kaku dan bisa menjadi kurang manusiawi. Ada orang justru menderita dan terancam kematian karena menjalankan peraturan agama yang tidak tepat. Sedangkan, Tuhan menghendaki belas kasihan, pengampunan dan keselamatan manusia dengan menjalankan dan menghayati perintah-Nya.

Dari kebenaran itu, kita memahami bahwa hubungan kita dengan Tuhan tak bisa dilepaskan dari hubungan kita dengan sesama. Sebagai orang beriman, tentu kita "menerima aturan atau perintah" untuk membawa persembahan kepada Tuhan berupa harta atau barang-barang berharga, namun akan lebih penting ketika "persembahan" itu dalam situasi tertentu digunakan untuk menolong sesama dari bahaya kematian, kemiskinan, atau kelaparannya. Ya, sebagai orang beriman, kita tidak boleh menutup mata terhadap keprihatinan yang menyelimuti sesama. Karena Yesus sendiri memberi teladan: Ia berbelas kasihan kepada kemalangan kita hingga rela memberikan nyawa-Nya di kayu salib.

Postingan Terkait

Rabu, 18 April 2018

,
1 Korintus 6:12-20

Saat kita membeli sebuah barang atau jasa, kita punya hak penuh atas barang atau jasa itu. Contohnya, saya membeli laptop. Laptop itu saya pakai menulis, menjalankan game, atau didiamkan-itu hak saya. Bahkan, jika saya memberikan laptop itu kepada orang lain, itu juga hak saya.

Siapakah pemilik bumi serta segala isinya, dan dunia serta segala yang ada di dalamnya? Tuhan (Mzm. 24:1). Kita memang memiliki harta, tetapi sebetulnya harta itu milik Tuhan. Kita dipercaya untuk memakai dan mengelolanya. Siapakah pemilik tubuh kita? Saat kita percaya pada Kristus dan mengikuti Dia, kita adalah milik Tuhan. Tubuh kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh darah Kristus sehingga tubuh kita adalah milik Kristus. Apakah kehendak Kristus bagi tubuh kita? Memuliakan Allah. Hidup kudus dengan menjauhi percabulan yang mencemarkan tubuh (ay. 18). Menjaga pikiran, tindakan, dan perasaan agar selaras dengan firman-Nya. Jangan mendukakan Roh Kudus yang diam dalam diri kita.

Tubuh kita milik Tuhan, muliakanlah Tuhan dengan tubuh kita. Segala sesuatu yang kita miliki dan kita pakai saat ini berasal dari Tuhan. Jadilah pengelola yang benar. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita gunakan saat ini, termasuk tubuh kita, memuliakan Tuhan dan mendatangkan sukacita bagi orang-orang yang merasakan dampak pikiran, perbuatan, dan ucapan kita.

Pengelola yang benar mengelola dengan bijak segala sesuatu milik tuannya.

Postingan Terkait